PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER
A. Latar belakang pemikiran
Sejak manusia menghendaki kemajuan dalam hidup dan kehidupannya, maka sejak itulah timbul gagasan dan upaya-upaya untuk melakukan berbagai aktivitas pengalihan, pelestarian dan pengembangan kebudayaan. Untuk itu semua, dilakukan melalui proses pendidikan. Maka dalam perkembangan sejarah pertumbuhan masyarakat, pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan generasi demi generasi sesuai dengan percepatan kemajuan serta tuntutan masyarakat.
Kalau kita perhatikan dari usaha-usaha mempertahankan dan mengembangkan hidup dan kehidupan manusia, tidak terlepas dari tiga hubungan yaitu :
1. Hubungan manusia dengan sang pencipta yaitu Allah Robbul’alamin.
2. Hubungan antar manusia.
3. Hubungan manusia dengan alam sekitar seperti tumbuh-tumbuhan, binatang dan kekuasaan alamiah lainnya.
Dari prinsip hubungan tersebut di atas, maka manusia mengembangkan proses pertumbuhan kebudayaannya yang akhirnya menjadi suatu peradaban manusia.
Dalam kenyataanya, pendidikan berkembang dari yang paling sederhana ( primitif ) sampai ke suatu era modern dan kontemporer. Ketika manusia telah dapat membentuk suatu masyarakat yang semakin berbudaya dengan tuntutan hidup yang semakin tinggi maka pendidikan bukan hanya ditujukan kepada pembinaan keterampilan melainkan kepada pengembangan kemampuan-kemampuan teoritis dan praktis berdasarkan konsep-konsep berfikir ilmiah.
Kemampuan konseptual tersebut berpusat pada pengembangan intelektual manusia itu sendiri. Oleh karena itu, faktor daya fikir manusia menjadi penggerak terhadap gaya-gaya lainnya untuk menciptakan suatu peradaban khusus bagi masyarakat Islam yang berkembang sejak zaman nabi Muhammad saw telah melaksanakan misi sucinya menyebarkan agamanya, dimana proses pendidikan merupakan kunci keberhasilannya. Sumber-sumber pokok ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis banyak memberikan motivasi kepada para pemeluknya untuk menciptakan pola kemajuan hidup yang dapat mensejahterakan pribadi dalam masyarakat kesejahteraan lahir batin baik secara individual maupun sosial yang mampu meningkatkkan derajat dan martabatnya baik di dunia maupun di akhirat. Nilai-nilai Islam yang demikian itulah yang dikembangtumbuhkan malalui proses tranformasi kependidikan, yaitu kemajuan peradaban manusia yang merupakan hasil proses kependidikan Islam yang tidak terlepas dalam lingkaran hubungan dengan Tuhan ( Hablumminallah ) maupun hubungan horizontal sesama manusia ( Hablumminannas ). Proses pendidikan tidak pernah berhenti tapi akan terus berkembang selaras dengan akselerasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta tuntutan dan kebutuhan masyarakat modern dan trend globalisasi. Globalisasi saat ini telah meluluhkan ruang dan waktu artinya dunia saat ini sudah tidak memiliki lagi batas-batas wilayah dan waktu. Implikasi dan pengaruh globalisasi tersebut sudah barang tentu berdampak terhadap perkembagan pendidikan pada umumnya dan perkembangan Islam pada khususnya baik dalam skala internasional maupun skala nasional Indonesia. Dengan kata lain, pendidikan Islam harus siap menghadapi pengaruh globalisasi tersebut baik dampak positif maupun negatif seperti bagaimana memanfaatkan pengaruh positif globalisasi agar umat Islam mampu memanfaatkan teknologi multimedia terutama internet, information technologi ( IT ) dalam meningkatkan pelayanan prima lembaga-lembaga pendidikan pada khususnya dan peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya serta mampu mengantisipasi dampak negatif dari trend globalisasi khususnya teknologi informasi seperti perubahan sistim nilai, gaya hidup, pola fikir dan sikap mental masyarakat Islam. Selain itu, perlu diwaspadai bahwa kehidupan pada era globalisasi betul-betul suatu kehidupan yang penuh persaingan yang ketat. Maka atas dasar pemikiran tersebut perlu dirintis konsep pendidikan Islam kontemporer.
B. Pengertian Pendidikan Islam kontemporer
Sebelum penulis memberikan batasan tentang pengertian pendidikan Islam kontemporer, maka penulis akan memberikan definisi tentang :
1. Pengertian pendidikan
John Stuart Mill berpendapat : “Not only does education include whatever we do for ourselves and whatever is done for us by others for the express purpose of bringing us nearer to the perfection of our nature, it does more in its largest acceptation : it comprehends even the indirect efforts produced on character, and on the human faculties by things of which the direct purposes are quite different” (pendidikan tidak hanya mencakup apa yang kita lakukan dan dilakukan oleh orang lain untuk kita sendiri. Dalam hal ini, pendidikan membawa pada kesempurnaan potensi pembawaan kita ini. Selain itu, ia mempunyai pengertian yang lebih luas yaitu pendidikan mempunyai tujuan langsung dan tidak langsung. Tujuan tidak langsung berarti membentuk karakter dan kemampuan manusia, sedangkan tujuan secara langsung masih terdapat perbedaan pendapat dari para ahlinya”).
Herman. H. Horner menjelaskan : “Education is the eternal process of superior adjustment of the physically and mentally developed, free, conscious, human being to God, as manifested in the intelectual, emotional and volitional environment of man” (“Pendidikan adalah seni atau proses penyebaran dan penerimaan pengetahuan dan proses pembiasaan dengan cara belajar atau mengajar”).
2. Pengertian Pendidikan Islam
Menurut Marimba : Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian yang lain sering kali beliau mengatakan kepribadian utama tersebut dengan istilah kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Menurut Abdurrahman Nahlawi :
Artinya : Pendidikan Islam ialah pengaturan pribadi dan masyarakat yang karenanya dapatlah memeluk Islam secara logis dan sesuai secara keseluruhan baik dalam kehidupan individu maupun kolektif.
Menurut Burhan Shomad : “Pendidikan Islam ialah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi mahluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya untuk mewujudkan tujuan itu adalah ajaran Allah. Secara rinci beliau mengemukakan pendidikan itu baru dapat disebut pendidikan Islam apabila memiliki dua ciri khas yaitu :
a. Tujuannya untuk membentuk individu menjadi sosok pribadi yang ideal menurut ukuran Al-Qur’an.
b. Isi pendidikannya ajaran Allah yang tercantum dengan lengkap di dalam Al-Qur’an dan pelaksanaannya di dalam praktek kehidupan sehari-hari sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Mustofa Al-Ghulayani : Bahwa pendidikan Islam ialah menanamkan akhlaq yang mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasihat, sehingga akhlaq itu menjadi salah satu kemampuan (meresap dalam) jiwanya kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk kemanfaatan tanah air.
3. Pengertian Pendidikan Islam Kontemporer
Sistem pendidikan yang berdasarkan nilai-nilai Islami bersumber pada Al-Qur’an, Al-sunnah dan hasil ijtihad pakar pendidikan Islam yang berorientasi kekinian selaras dengan kemajuan ilmu dan teknologi modern serta kebutuhan dan tuntutan masyarakat modern.
C. Hakikat Pendidikan Islam
Hakikat pendidikan Islam ialah potensi dinamis dalam tiap diri manusia yang terletak pada keimanan atau keyakinan, ilmu pengetahuan, akhlaq dan pengalamannya yang mengandung tiga dimensi pengembangan kehidupan manusia yaitu :
1. Dimensi kehidupan duniawi yang mendorong manusia sebagai hamba Allah untuk mengembangkan dirinya dalam ilmu pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang mendasari kehidupan yaitu nilai-nilai Islam.
2. Dimensi kehidupan Ukhrawi mendorong manusia untuk mengembangkan dirinya dalam pola hubungan yang serasi dan seimbang dengan Tuhannya. Dimensi inilah yang melahirkan berbagai usaha agar kegiatan ubudiahnya senantiasa berada di dalam nilai-nilai agamanya.
3. Dimensi hubungan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi mendorong manusia untuk berusaha menjadikan dirinya sebagai hamba Allah yang utuh dan paripurna dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan, sekaligus menjadi pendukung serta pelaksana (pengamal) nilai-nilai agamanya.
Ketiga dimensi tersebut kemudian dijabarkan dalam program operasional kependidikan yang makin meningkat kearah tujuan yang telah ditetapkan. Dalam program itulah tergambar adanya materi kependidikan Islam yang secara difusif (menyebar) dan integratif (menyatu) dioperasionalisasikan ke dalam rangkaian program pendidikan atau kurikulum, sehingga terserap ke dalam pribadi manusia sebagai objek pendidikan Islam. Dari terjadinya internalisasi nilai-nilai Islam itu, anak didik menjadi wujud dari kehendak Allah, karena secara aktual dan fungsional mampu mengamalkan perintah dan menjauhi larangannya, yaitu menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa melalui ilmu pengetahuan, keterampilan, serta prilakunya yang sesuai dengan nilai-nilai agama.
Inilah proses dasar dalam sistem pendidikan Islam yang perlu dipegangi dalam operasionalisasi kependidikan Islam. Proses demikian memerlukan pengarahan operasional berdasarkan teori pendidikan sesuai cita-cita agama (menurut Al-Qur’an dan Hadis).
D. Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam Kontemporer
Sebagai dasar pendidikan Islam kotemporer adalah :s
1. Al-Qur’an terutama yang menyangkut ayat-ayat tarbawi
2. Sunah Rasulullah SAW terutama hadis-hadis Tarbawi
3. Hasil ijtihad para ulama/ pakar pendidikan Islam yang meliputi :
3.1 Dasar filosofis yaitu filsafat Islam dan Filsafat pendidikan Islam.
3.2 Dasar psikologis terutama psikologi pendidikan dan perkembangan.
3.3 Dasar sosiologis yaitu tentang struktur masyarakat Islam.
3.4 Dasar teoritis yaitu konsep, prinsip, teori, dan teknik pendidikan menurut hasil pemikiran pakar pendidikan Islam.
Adapun tujuan pendidikan Islam kontemporer adalah :
1. Tujuan ideal yaitu untuk mencapai mardhatillah
2. Tujua akhir yaitu untuk mencapai tujuan akhirat dan terbebas dari api neraka
3. Tujuan sementara :
3.1 Bagai seorang muslim muttaqin paripurna yang beriman, bertaqwa, berahlak mulia cerdas dan berketerampilan, berkepribadian, berkebangsaan serta bertanggung jawab dalam pembangunan dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya.
3.2 Dapat membangun keluarga sakinah, mawaddah, warrohmah.
3.3 Dapat membentuk masyarakat yang marhamah dan dapat membentuk negara yang baldah thayyibah warabbun ghafur.
3.4 Dapat menjadikan manusia yang paripurna yaitu :
1. manusia sebagai makhluk individu yang potensial yang mampu berbuat berbagai kebajikan memiliki hak dan kewajiban, mengembangkan diri, dapat menentukan pilihan, pikiran dan tindakan serta mengembangkan hak-hak asasi manusia yang lainnya.
2. Manusia sebagai makhluk sosial yang mampu berkomunikasi dan berinteraksi dalam kehidupan manusia yang bermasyarakat.
3. Manusia sebagai makhluk monodualisme ( jasmani dan rohani) yang mampu mengembangkan akal, mengendalikan hawa nafsu dan memfungsikan qolbunya.
4. Manusia sebagai makhluk ilmiah yang potensial yang mampu menguasai dan mengembangkan nama, makna dan konsep dirinya.
5. Sebagai kholifah filardhi yang berpotensi untuk menguasai serta memiliki keterampilan untuk kepengurusan dunia serta memakmurkan dunia.
E. Hubungan Antara Dasar Asas dan Proses Pendidikan
PROSES PENDIDIKAN
F. Sistim Nilai Yang Mendasari Pendidikan Islam Kontemporer
Sistem nilai yang mendasari Islam kontemporer terdiri dari :
1. Nilai Physical Values yaitu nilai-nilai yang bersifat fisik/ jasmaniah yang perlu menjadi standarisasi pertumbuhan fisik sesuai dengan pertumbuhan jasmaniah manusia dari masa konsepsi, masa orok, masa kanak-kanak, masa anak-anak, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua.
2. Nilai etikal yaitu nulai-nilai yang berkaitan dengan moral budi pekerti atau ahklaqul karimah sebagai dasar-dasar berprilaku secara standar normatif Islam baik kepada dirinya, kepada orang lain, terhadap alam terhadap sang kholiq.
3. Nilai logikal ialah kemampuan daya nalar yang harus dikuasai oleh seorang manusia dari mulai mumayyiz baligh sampai dewasa yang meliputi kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, kecerdasan oral, kecerdasan kultural dan kecerdasan berpolitik
4. Nilai estetikal yaitu nilai yang berhubungan dengan mengapresiasikan keindahan baik dalam pemeliharaan lingkungan, kebersihan, keindahan, sampai mengekspresikan nilai-nilai seni budaya yang Islami sampai menciptakan seni untuk Tuhan (arts for god).
5. Teleologikal instrumental yaitu nilai azas manfaat yaitu suatu kemampuan dalam memanfaatkan segala fasilitas hidup dan kehidupan baik langsung maupun tidak langsung baik sederhana maupun yang kompleks sehingga dapat menjadikan kehidupannya lebih sejahtera dan bermakna.
6. Teologikal Values yaitu nilai yang berkaitan dengan masalah-masalah keagamaan artinya perkembangan kehidupan beragama dari mulai mengenal agama secara verbalistis, kepada tingkatan kritis sampai kesadaran baragama dengan penuh tanggung jawab dalam kerangka menjunjung tinggi agama Allah (Al-Islam) sesuai dengan peran dan fungsi dalam kehidupan berpribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
G. Kerangka Manajemen Sistem Pendidikan Islam Kontemporer
1. Visi, Misi dan Strategi
1.1 Visi
Dalam kurun waktu tertentu mampu menciptakan sistem pendidikan Islam yang unggul dan paripurna dalam segala aspek hidup dan kehidupan berpribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
1.2 Misi
a. Menyelenggarakan sistem pendidikan Islam yang up to date.
b. Membangun lembaga pendidikan yang representatif Islami.
c. Menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, cerdas, berketerampilan, berwawasan daerah regional, nasional dan internasional yang berkepribadian muslim muttaqien paripurna.
d. Menghasilkan out come yang siap pakai, memiliki daya saing hebat, berwawasan luas dan berkepribadian muslim mu’taqid paripurna.
1.3 Strategi
Ciptakan sistem pendidikan Islam kontemporer yang mampu menjawab segala tantangan dan mengantisipasi segala dampak negatif dari era globalisasi dan akselerasi ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
1.4 Kepemimpinan Kependidikan yang Islami, demokratis, persuasif dan partisipatif serta transfaransi dan memiliki kemampuan managerial leadersif kependidikan Islam.
1.5 Kurikulum
a. Tujuan
Menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, beriman, bertaqwa, berahlak mulia, cerdas, dan berketerampilan, berkepribadian, memiliki daya saing yang tinggi, percaya diri, mampu membangun dirinya, keluarga, mesyarakat, bangsa, negara dan agamanya.
b. Pendekatan kurikulum
Pendekatan kurikulum selain menggunakan pendekatan berdasarkan akademik juga menggunakan pendekatan rekontruksi sosial humanistis dan pemanfataan teknologi pendidikan.
c. Isi kurikulum
Isi kurikulum yaitu pertama tentang ilmu-ilmu syar’iyyah ialah ilmu-ilmu tentang agama Islam dan kedua yaitu ilmu-ilmu aqliyah yang terdiri dari : Ilmu kewarganegaraan, bahasa nasional dan asing terutama bahasa arab dan Inggris, rumpun matematika, statistika, ilmu alam ( fisika, kimia, biologi ) rumpun ilmu-ilmu sosial, geografi, antariksa, antropologi, sosiologi, filsafat, ilmu politik, ekonomi, ilmu-ilmu keterampilan khusus multi media, teknologi terapan, pertukangan, perindustrian, pertanian, ilmu-ilmu penunjang lainnya.
1.6 Siswa
a. Siswa yang diharapkan dalam sistem pendidikan Islam kontemporer adalah yang memiliki multiple intelegence artinya yang memiliki berbagai kecerdasan baik kecerdasan yang bersifat kebahasaan terutama yang mampu aktif berbahasa asing ( minimal arab dan inggris), menguasai ilmu-ilmu sosial, menguasai dan mengerti ilmu-ilmu eksakta, berfikir kritis / reflektif thinking serta memiliki kemampuan dalam keterampilan khusus ( komputer, internet, pertukangan, otomotif, bidang pertanian dan sebagainya ).
b. Memiliki berbagai motivasi untuk :
Belajar, membaca, berkarya, berkreasi, berinovasi, problem solving, otodidak dan seterusnya.
c. Cara belajar yang diharapkan adalah cara belajar mandiri, sistim modul, cara belajar siswa aktif, problem solving, diskusi kelompok, kerja kelompok, dicovery, dan inquiry.
1.7 Tenaga kependidikan
a. Tenaga guru yang :
Profesional, memiliki kompetensi paedagogik, kompetensi profesi, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, inovatif, mampu berbahasa asing secara aktif ( minimal arab dan Inggris) dapat memanfaatkan jasa teknologi modern terutama komputer dan internet, kreatif, dan berkualifikasi minimal S1 dan diharapkan berkualifikasi master atau doktor.
b. Tenaga tata usaha
Berkualifikasi minimal S1, mampu memanfaatkan jasa teknologi terutama komputer dan internet, kreatif dan inovatif. Diharapkan mampu aktif berbahasa asing (minimal arab dan Inggris ).
1.8 Dana, Sarana dan Prasarana
a. Biaya Pendidikan
- mampu menyediakan dana pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan.
- Mampu menyusun rencana pendapatan dan belanja pendidikan terutama intern lembaga pendidikan tersebut dengan partisipasi umat Islam.
- Mampu memanfaatkan dana umat terutama pendayagunaan zakat infaq dan shadakah.
- Menciptakan jaringan, seperti jaringan donatur yang dapat membantu pendanaan pendidikan, baik dari dalam maupun luar negri.
- Mampu menciptakan accountabilitas dan responsibilitas dari masyarakat umat Islam.
b. Sarana dan Prasarana
- Suite / lahan untuk sarana lembaga pendidikan Islam minimal 3 hektar tanah wakaf.
- Building bangunan refresentatif lengkap terdiri dari ruang belajar, ruang pimpinan, ruang guru / dosen , ruang belajar, perpustakaan, laboratorium bahasa, labolatorium IPA, laboratorium komputer, laboratorium keterampilan. Ruang serba guna, ruang UKS, ruang OSIS (BEM), gudang, kamar kecil yang cukup, mesjid, lapang upacara, lapang olahraga, kantin yang refresentatif dan permanen.
c. Alat Perlengkapan
- Terpenuhinya alat pelengkapan yang memadai terutama media pembelajaran ( OHP, Infokus, proyektor, Laptop dsb. ).
- Alat-alat perpustakaan, alat-alat laboratorium, alat-alat kebersihan dan kesehatan, alat-alat olah raga, mebeler (bangku, kursi, meja, lemari, File, rak, dsb).
- Dilenglapi dengan petugas dan buku / instrumen inventarisasi lembaga.
- Pertanggungjawaban keuangan maupun kekayaan lembaga.
DAFTAR PUSTAKA
Abudin Nata M. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (Seri Kajian Filsafat Pendididkan Islam). PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. 1998.
Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan, Aksara Baru, Jakarta, 1988.
Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006.
Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. PT. Remaja Rosda Karya. Bandung. 1991.
Amirul Hadi, Haryono. Metodologi Penelitian Pendidikan. Pustaka Setia. Bandung. 1998.
Azyumardi Azra. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi manuju Milenium Baru. PT. Logos. Jakarta. 2002.
Anonimous, Makalah Psikologi Tentang Emosional Anak, www.anakciremai.com. 2008
Anonimous, Makalah Psikologi Tentang Intelegensi Anak, www.anakciremai.com. 2008
Anonimous, Makalah Psikologi Tentang Reaksi dan Pola Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini, www.anakciremai.com. 2008
Anonimous, Makalah Psikologi Tentang Intelektual Anak, www.anakciremai.com. 2008
Habil An Nahji. Falsafatul Tarbiyah, Mathabi Al-Kamilany. Qohiro. 1976.
Husni Rahim. Arah Baru Pendidikan di Indonesia. PT. Logos. Jakarta. 2001.
Hasan Sanggulung. Manusia dan Pendidikan (Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan). Pustaka Al-Bana. Jakarta. 1986.
Iman Suprayogo, Tobrono. Metodologi Penilitian Sosial Agama. Remaja Rosda Karya. Bandung. 2003
Irwandi. Dekonstruksi Pemikiran Pemikiran Islam. Aruz Media. Jogjakarta. 2003.
Jalaluddin, Psikologi Agama, PT.Raja Grafindo Persada, 2000.
Malik Fajar. Visi Pembaharuan Pendidikan Islam. LPPPNI. Jakarta. 1998.
Martinis Yamin. Strategi Pembelajaran Bebasis Kompetensi. Gaung Persada Press. Jakarta. 2004.
Mulizul Qulb. System Pendidikan Islam. Al-Marif Bandung. 1988.
Nana Sudjana. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Algesindo. Bandung. 2004
Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. PT. Remaja Rosda Karya. Bandung. 2004.
Oemar Hamalik. Sistem dan Prosedur Pengembangan Kurikulum. Trigenda Karya. Bandung. 1993.
Sahminza Zaeni. Prinsip-prinsip Dasar Konapsi Pendidikan Islam. Kala Mulia. 1986.
Syamsu Yusuf, Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Pustaka Bani Quraisy, 2006.
Ta. Nojoc Chaw. Aspek-aspek Demokratis Perencanaan Pendidikan. Bharata Karya Aksara. jakarta.
Tjipto Utomo dan Koes Ruijter. Peningkatan dan Pengembangan Pendidikan. PT Gramedia. Jakarta. 1985.
Yusuf Amir Faisal. Reorientasi Pendidikan Islam. Gema Insani Press. Jakarta. 1995.
Zuhraini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Bina Aksara. Jakarta. 1984.
Rabu, 27 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Stainless Steel vs Titanium Curling Iron | Titanium-Arts.com
BalasHapusStainless Steel is titanium fidget spinner a stainless titanium oxide steel titanium bong razor head titanium ti s6 with an elegant handle and a unique blade angle 2019 ford ecosport titanium for a longer and better shave. This classic tool has